Galeri

Teori Belajar dan Implikasinya dalam Pendidikan

2013-01-16 10.13.04 copy

  1. Pokok-pokok teori belajar behavioristik:
    1. Teori belajar kondisioning klasik adalah: teori yang ditemukan Pavlov melalui percobaannya terhadap anjing, dimana perangsang asli dipasangkan dengan stimulus bersyarat (kondisi) secara berulang-ulang untuk memunculkan reaksi yang dinginkan,  sehingga ketika hanya stimulus bersyarat diberikan hal tersebut akan dapat memunculkan reaksi yang diinginkan.

Implikasi teori dalam pendidikan Islam adalah: a)  pengkondisian ruang baca yang nyaman dapat merangsang siswa untuk rajin membaca buku, b) penciptaan media pembelajaran yang interaktif dan menarik dapat menarik perhatian siswa untuk konsentrasi dalam belajar matematika, c) ketika guru ingin menghafalkan do’a belajar kepada peserta didiknya, guru dapat mengajak para peserta didik untuk mengikuti ucapannya yang membacakan potongan-potongan do’a secara berulang-ulang, d) Meyakinkan siswa yang cemas ketika menghadapi ujian masuk sebuah sekolah yang lebih tinggi tingkatannya atau perguruan tinggi, bahwa tes tersebut sama dengan tes-tes prestasi akademik lain yang pernah mereka lakukan.

  1. Teori Teori Koneksionisme (Thorndike) adalah: teori yang menyatakan belajar sebagai suatu kegiatan membentuk asosiasi (connection) antara kesan panca indera dengan kecenderungan bertindak.  Teori ini menyimpulkan bahwa semakin siap suatu organisme memperoleh suatu perubahan tingkah laku, maka pelaksanaan tingkah laku tersebut akan menimbulkan kepuasan individu sehingga asosiasi cenderung diperkuat. Sebaliknya jika ada kecenderungan bertindak, tetapi ia tidak melakukannya, maka timbullah rasa ketidakpuasan, dan bila tidak ada kecenderungan bertindak padahal ia melakukannya, maka timbul juga ketidakpuasan.

Implikasi teori dalam pendidikan Islam adalah: bahwa respon siswa dapat diperkuat dan diarahkan dengan memberikan rangsangan kepada siswa melalui pemberian materi pelajaran yang sesuai dengan tingkat perkembangan kognitif siswa. Minat siswa terhadap materi pelajaran juga dapat diperkuat dengan menggunakan media pembelajaran yang menarik dan dapat mengajak siswa untuk terlibat aktif dalam proses pembelajaran.

  1. Teori Belajar Operant Conditioning (Skinner) adalah: teori yang mengatakan bahwa unsur terpenting dalam belajar adalah penguatan. Maksudnya adalah pengetahuan yang terbentuk melalui ikatan stimulus respon akan semakin kuat bila diberi penguatan. Skinner membagi penguatan ini menjadi dua yaitu penguatan positif dan penguatan negatif. Bentuk penguatan positif berupa hadiah, perilaku, atau penghargaan. Bentuk-bentuk penguatan negatif antara lain menunda atau tidak memberi penghargaan, memberikan tugas tambahan atau menunjukkan perilaku tidak senang.

Implikasi teori dalam pendidikan Islam adalah: peserta didik dapat ditingkatkan semangat belajarnya dengan memberikan hadiah yang disukainya. Karakter anak didik juga dapat ditingkatkan dengan pemberian tanggapan konstan kepadanya, yaitu memberikan pujian kepada siswa bila dia melakukan perbuatan terpuji dan memberikannya peringatan langsung pada saat dia melakukan perbuatan tercela.

  1. Teori Belajar Contigous Conditioning (Guthrie)  adalah menyatakan bahwa apa yang sesungguhnya dipelajari oleh siswa adalah reaksi atau respons terakhir yang muncul atas sebuah rangsangan atau stimulus.

Implikasi teori dalam pendidikan Islam adalah: a) guru dapat meningkatkan motivasi belajar siswa dengan menjelaskan secara jelas apa tujuan dan manfaat yang diperoleh siswa setelah mempelajari sesuatu, b) Ketika memerintahkan siswa untuk melaksanakan sesuatu maka guru harus menjelaskan apa fungsi yang  akan dilaksanakannya.

  1. Pokok-pokok teori belajar kognitif
    1. Teori perkembangan kognitif –Jean Piaget.

Proses belajar terdiri dari tiga tahapan, yakni (1) asimilasi, yaitu proses penyatuan informasi baru ke struktur kognitif yang sudah ada dalam benak siswa. (2) akomodasi yaitu penyesuaian struktur kognitif ke dalam situasi baru. (3) equilibrasi (penyeimbangan) adalah penyesuaian berkesinambungan hubungan antara asimilasi dan akomodasi. Menurut Piaget proses belajar harus disesuaikan dengan tahap perkembangan kognitif yang dilalui siswa.

Implikasi teori dalam pendidikan Islam adalah: 1) Pembelajaran dilakukan dengan memusatkan perhatian kepada berfikir atau proses mental anak, 2) Menciptakan kondisi atau lingkungan belajar yang membuat siswa mampu menemukan pengalaman nyata dan terlibat langsung dengan media pembelajaran.

  1. Teori Lev Vygotsky

Teori Lev Vygotsky adalah teori yang menyatakan belajar sebagai proses yang melibatkan dua elemen penting yakni belajar sebagai proses secara biologis yang merupakan proses dasar, dan proses secara psikososial sebagai proses yang lebih tinggi yang esensinya berkaitan dengan lingkungan sosial budaya sehingga perilaku seseorang muncul karena pengaruh kedua eleman tersebut.

Pokok pemikiran teori Vygotsky ini adalah bahwa: a) Keahlian kognitif anak  dapat dipahami apabila dianalisis dan diinterpretasikan secara developmental, yakni memahami fungsi kognitif anak dengan memeriksa asal usul dan transformasinya dari bentuk awal ke  bentuk selanjutnya, b) Kemampuan kognitif dimediasi dengan kata, bahasa dan bentuk diskursus, yang berfungsi sebagai alat psikologis untuk membantu dan mentransformasi aktivitas mental. Pada masa kanak-kanak awal bahasa merupakan alat  yang membantu anak untuk merancang aktivitas dan menyelesaikan problem, c) Kemampuan kognitif berasal dari relasi sosial dan dipengaruhi oleh latar belakang sosiokultural, d) Perkembangan memori, perhatian, dan nalar melibatkan pembelajaran untuk menggunakan alat yang ada di masyarakat, seperti bahasa, sistem matematika, dan strategi memori.

Implikasi teori dalam pendidikan Islam adalah: Guru harus menciptakan kondisi iklim yang baik untuk kegiatan belajar siswa, dan peran guru dalam proses pembelajaran adalah pembimbing, konselor dan pengarah proses pembelajaran. Guru juga harus mengidentifikasi keinginan dan kebutuhan siswa dalam proses belajar.

  1. Teori Free Discovery Learning (Jerome Bruner)

Teori ini menyatakan bahwa proses belajar akan berjalan dengan baik dan kreatif bila guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan semua aturan (termasuk konsep, teori, defenisi dan sebagainya).

Implikasi teori dalam pendidikan Islam adalah: guru harus mengarahkan siswa untuk belajar menemukan konsep-konsep dan informasi yang terdapat di dalam materi pelajaran secara mandiri.

  1. Pokok-pokok teori belajar humanistik
    1. Teori Taxonomy (Bloom, Krathworl dan Simson)

Taksonomi merupakan suatu tipe/ sistem klasifikasi khusus, yang berdasarkan data penelitian mengenai hal-hal yang digolong-golongkan secara sistematis. Menurut Winkel garis besar taksonomi dapat dikelompokkan dalam tiga bagian, yakni kognitif, afektif dan psikomotor.

  1. Teori Qalb

Menurut teori qalb, tahapan-tahapan belajar dari pengalaman kongkrit → pengalaman aktif dan reflektif → konseptualisasi → eksperimentasi aktif adalah terjadi secara berkesinambungan dan berlangsung di luar kesadaran siswa. Artinya, meskipun dalam teorinya kita mampu membuat garis tegas anata satu tahap dengan tahap lainnya, namun dalam praktik peralihan dari satu tahap ke tahap lainnya seringkali terjadi begitu saja, dan sulit ditentukan kapan terjadinya.

  1. Teori Honesi dan Mumford

Teori ini sangat memperhatikan sikap dan tingkah laku siswa, sehingga mereka menggolongkan siswa ke dalam empat tipe siswa, yaitu: a) tipe aktivis (suka melibatkan diri dalam pengalaman baru), b) reflector (lawan aktivis), teoris (sangat kritis da senang menganalisis), dan c) pragmatis (suka yang praktis).

  1. Teori Habermas

Teori ini percaya bahwa belajar sangat dipengaruhi oleh interaksi, baik dengan lingkungan maupun dengan sesame manusia. Karenanya teori habermas membagi tipe belajar menjadi tiga macam, yaitu:

1)      Belajar teknis, yaitu siswa belajar berinteraksi dengan alam sekelilingnya. Berusaha menguasai dan mengelola alam dengan cara mempelajari keterampilan dan pengetahuan yang dibutuhkan untuk itu.

2)      Belajar praktis, yakni belajar berinteraksi, tetapi pada tahap ini yang lebih dipentingkan adalah interaksinya dengan orang di sekelilingnya. Pemahaman siswa terhadap alam justru relevan berkaitan dengan kepentingan manusia.

3)      Belajar emansipatoris, yakni siswa berusaha mencapai pemahaman dan kesadaran yang sebaik mungkin tentang perubahan kultur dari satu lingkungan. Pemahaman dan kesadaran terhadap transformasi cultural ini dianggap tahap belajar yang paling tinggi, sebab transformasi cultural ini yang dianggap sebagai tujuan pendidikan yang paling tinggi.

Implikasi teori belajar humanistik dalam pendidikan Islam adalah:

1)      Proses pembelajaran harus dilakukan dengan humanis dan bertanggungjawab.

Guru harus pintar tentang cara memilih metode pembelajaran, menyesuaikan isi materi pelajaran dengan tahap kemampuan kognitif siswa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s