Galeri

Proposal Pengembangan Kurikulum Berbasis Pendidikan Karakter di MI (By Hamdan HBA)

A.      Latar Belakang Masalah

Kata ‘karakter’ sesungguhnya berasal dari bahasa Latin: “kharakter”, “kharassein”, “kharax”, dalam bahasa Inggris: character, dalam bahasa Indonesia: “karakter”, dan dalam bahasa Yunani: character, dari charassein yang berarti membuat tajam, membuat dalam.[1] Hendro Darmawan mengartikan karakter sebagai watak, tabiat, pembawaan, dan kebiasaan.[2] Pengertian yang tidak berbeda juga dikemukakan Dharna Kesuma yang mengatakan bahwa arti kata karakter adalah budi pekerti, akhlak, moral, afeksi, susila, tabiat, dan watak.[3]

Karakter dipengaruhi oleh faktor genetis dan faktor lingkungan seseorang. Pada sisi faktor lingkungan maka karakter seseorang banyak dibentuk oleh orang lain yang sering berada di dekatnya atau yang sering mempengaruhinya, kemudian ia mulai meniru untuk melakukannya.

Misalnya, seorang siswa Madrasah Ibtidaiyah yang masih polos seringkali mengikuti tingkah laku orang tuanya atau teman mainnya, bahkan pengasuhnya. Karena karakter terbentuk dari proses meniru yaitu melalui proses melihat, mendengar dan mengikuti, maka karakter sesungguhnya dapat diajarkan atau diinternalisasi secara sengaja melalui aktivitas pendidikan dengan mengembangkan kurikulum yang berbasis pendidikan karakter”. Dengan demikian maka dapat disimpulkan bahwa karakter adalah merupakan hadiah Tuhan yang di bawa sejak lahir dan kemudian berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya melalui aktivitas belajar.[4]

Strategi pengembangan kurikulum berbasis pendidikan karakter dapat dilakukan melalui tiga (3) hal, yaitu: 1) mengintegrasikan butir-butir nilai karakter ke dalam  seluruh mata pelajaran, muatan lokal dan kegiatan pengembangan diri,     2) pembiasaan dalam kehidupan sehari-hari di sekolah (pelayanan, pengelolaan dan pengajaran), dan 3) meningkatkan kerjasama antara sekolah, orang tua peserta didik, dan masyarakat dalam hal membudayakan/ membiasakan nilai-nilai karakter di lingkungan sekolah, lingkungan rumah tangga dan lingkungan masyarakat.

Dasar pelaksanaan pendidikan karakter sesungguhnya adalah berlandasakan kepada tujuan pendidikan nasional dan pesan dari UU Sisdiknas tahun 2003 yang mengharapkan agar pendidikan tidak hanya membentuk manusia yang pintar namun juga berkepribadian (berkarakter), sehingga nantinya akan lahir generasi muda yang tumbuh dan berkembang dengan kepribadian yang bernafaskan nilai-nilai luhur Agama dan Pancasila. Demikian pula halnya di dalam Standar Kelulusan (SKL) Madrasah Ibtidaiyah ditemukan bahwa sebagian besar hasil belajar adalah merupakan pembentukan nilai-nilai karakter yang baik di dalam diri peserta didik, seperti: karakter beriman dan bertaqwa kepada Tuhan, bertanggungjawab, jujur, dan disiplin.

Rasulullah Saw. Bersabda di dalam sebuah potongan hadis: وَمَنْ حَسَّنَ خُلُقَةُ بُنِيَ لَهُ فِي أَعْلَاهَا (Artinya: Barangsiapa memperbaiki akhlaknya maka baginya akan dibangunkan istana di surga yang paling tinggi (HR. Ibn Majah: No. 50).

Namun, strategi penerapan pendidikan karakter tersebut ternyata belum terlaksana dengan baik di beberapa sekolah dan Madrasah. Sebab, fokus sebagian lembaga pendidikan dewasa ini masih pada pembekalan ilmu pengetahuan dan skill untuk bekerja sehingga siswa mampu bersaing dan mempertahankan hidupnya. Sedangkan pembentukan watak, karakter atau ahlak nyaris hampir tidak diperhatikan dan inilah pendidikan yang selama ini terlupakan, padahal karakter inilah yang menentukan pada arah masa depan yang lebih cerah. Suatu bangsa akan mengalami keterpurukan disebabkan karena tidak memiliki karakter yang baik. hal itulah yang mengakibatkan bangsa ini terpuruk dan tidak keluar dari krisis multi dimensi.[5]

Dekadensi moral yang dialami oleh generasi bangsa ini juga menunjukkan bahwa pelaksanaan pendidikan yang selama ini diselenggaran kurang menyentuh pada pembentukan karakter siswa. Sebab, tanggung jawab pembinaan karakter dipandang sebagai tanggung jawab  sebagian guru saja, seperti guru Pendidikan Agama Islam, Bahasa Indonesia dan IPS, dan bukan tanggung jawab seluruh personil sekolah. Oleh sebab itu, maka pendidikan karakter di sekolah selalu gagal dan kegagalan tersebut juga malah dikambing hitamkan terhadap kegagalan beberapa guru bukan kegagalan pendidikan. Oleh karena itu, maka perlu dilakukan pembenahan kurikulum agar terintegrasi dengan pendidika karakter.

Minimnya penanaman nilai-nilai karakter di beberapa sekolah dapat diketahui dari hasil penelitian Syaeful Hidayat (2004) yang menemukan bahwa: dari 32 item materi kurikulum PAI yang harus dikuasai di tingkat SMP ternyata 13 item materi fikih, 6 item berkaitan dengan AlQuran dan Hadis, keimanan, tarikh, dan tidak lebih dari 6 item berkaitan dengan karakter.

Disertasi Mursidin, dengan fokus penelitian tentang nilai-nilai moral shalat dan kesalehan sosial siswa, juga menemukan bahwa isi kurikulum di sekolah dalam pembelajaran salat belum sampai kepada penyampaian pesan moral yang ada di dalam pembelajaran solat. Penemuannya ini beranjak dari 4 hal berikut, yaitu: 1) moral sosial solat belum begitu familiar di kalangan guru, 2) materi bahan ajar solat sangat kuat dominasi fikih, ketimbang akhlak, 3) evaluasi pembelajaran solat pun hanya menekankan pada pengetahuan solat, sedangkan pembiasaan dan pemaknaan salat nyaris terabaikan secara sistemik dari keseluruhan proses pembelajaran, dan 4) guru PAI belum sepenuhnya menampilkan teladan moral atau menjadi model kurikulum karakter berjalan.

Berangkat dari dua hasil penelitian di atas, dapat diketahui bahwa masih terbuka celah yang begitu besar untuk memasukkan pendidikan karakter ke dalam seluruh proses pendidikan, baik pada personal guru, kurikulum, strategi pembelajaran, dan pada model evaluasi pembelajaran. Dengan demikian maka tugas untuk mendidik karakter peserta didik akan menjadi tugas semua personil sekolah dan masyarakat sekolah.

Berdasarkan uraian masalah di atas maka peneliti akan mengangkat masalah tersebut ke dalam sebuah penelitian yang berjudul: “Strategi Pengembangan Kurikulum Berbasis Pendidikan Karakter di MIN 1 Model Padangsidimpuan”.

  1. B.       Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah penelitian ini adalah sebagai berikut:

  1. Bagaimana strategi pengembangan kurikulum berbasis pendidikan karakter di MIN 1 Padangsidimpuan ?
  2. Bagaimana teknik penerapan kurikulum berbasis pendidikan karakter di MIN 1 Model Padangsidimpuan ?
  1. C.      TujuanPenelitian

Adapun  tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut :

  1. Untuk mengetahui strategi pengembangan kurikulum berbasis pendidikan karakter di MIN 1 Padangsidimpuan.
  2. Untuk mengetahui teknik penerapan kurikulum berbasis pendidikan karakter di MIN 1 Model Padangsidimpuan.
  1. D.      Manfaat Penelitian

Adapun manfaat yang diperoleh dari penelitian ini adalah sebagai berikut:.

  1. Secara teoritis

Secara teoritis, penelitian ini dapat menjadi salah satu masukan bagi upaya pengembangan kualitas pendidikan, khususnya pada bidang pengembangan kurikulum berbasis pendidikan karakter.

  1. Secara praktis

Secara praktis, penelitian ini memberikan manfaat bagi beberapa kalangan berikut :

  1. Bagi Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Hasil penelitian ini memungkinkan untuk menjadi salah satu sumber kajian bagi kalangan mahasiswa baik sebagai pengayaan materi perkuliahan maupun untuk penelitian yang pokok kajiannya ada kesamaan.

  1. Bagi perpustakaan

Penelitian ini berguna sebagai masukan yang sangat penting tentang temuan ilmiah dan koleksi perpustakaan yang dapat dijadikan suatu referensi.

  1. Bagi MIN 1 Model Padangsidimpuan

Hasil penelitian ini akan memberikan kontribusi dalam peningkatan mutu pendidikan dan profesionalisme guru sehingga tujuan pendidikan bisa tercapai (efektif).

  1. Bagi peneliti, hasil penelitian ini akan menjadi salah satu pengalaman yang akan memperluas cakrawala pemikiran dan wawasan pengetahuan, khususnya dalam masalah pengembangan kurikulum berbasis pendidikan karakter.
  1. E.       Definisi Operasional

Untuk menghindari kesalah fahaman dalam menafsirkan penelitian yang berjudul “Pengembangan kurikulum berbasis Pendidikan Karakter di MIN 1 Padangsidimpuan” maka peneliti merasa perlu untuk menegaskan maksud beberapa istilah berikut:

  1. Strategi

Strategi adalah perencanaan yng berisi tentang rangkaian kegiatan yang didesain untuk mencapai tujuan tertentu.[6] Maksud strategi pengembangan dalam penelitian ini adalah suatu rangkaian kegiatan  yang direncanakan dan dilakukan para personil sekolah untuk mengembangkan dan menyempurnakan kurikulum berbasis pendidikan karakter.

  1. Pengembangan Kurikulum

Maksud dari pengembangan kurikulum pada judul penelitian ini adalah suatu kegiatan perbaikan ataupun penyempurnaan kurikulum sehingga dapat mencapai tujuan-tujuan yang telah direncanakan sebelumnya.

  1. Berbasis

Maksud kata berbasis pada judul penelitian ini adalah bertujuan untuk.

  1. Pendidikan

Pendidikan adalah sebagai usaha membina dan mengembangkan pribadi manusia yang berlangsung secara bertahap.[7] Oleh karena itu, suatu kematangan yang bertitik akhir pada optimalisasi perkembangan/ pertumbuhan baru dapat tercapai bilamana berlangsung melalui proses demi proses ke arah tujuan akhir perkembangan atau pertumbuhannya.

  1.  Karakter

Karakter adalah “ciri khas” yang dimiliki oleh suatu benda atau individu tersebut dan merupakan mesin yang mendorong bagaimana seseorang bertindak, bersikap dan merespon sesuatu. Ciri khas ini merupakan hal yang mudah diingat oleh orang dan menentukan suka atau tidak sukanya orang lain pada individu.

Berdasarkan defenisi operasional tersebut dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan “strategi pengembangan kurikulum berbasis pendidikan karakter di MIN 1 Model Padangsidimpuan” adalah suatu rangkaian kegiatan  yang direncanakan dan dilakukan para personil sekolah untuk mengembangkan kurikulum berbasis pendidikan karakter di MIN1 Model Padangsidimpuan,

  1. F.       Landasan Teori
    1. 1.         Pengertian Karakter

Secara etimologi karakter berasal dari bahasa Yunani, charasseim, yang berarti “mengukir” atau “dipahat”.[8] Suatu ukiran adalah adalah melekatkuat diatas suatu benda yang diukir yang tidak mudah hilang, menghilangkanukiran sama halnya menghilangkan benda yang diukir.Selanjutnya dalam kamus Indonesia Arab, ada dua kata yang memilikimakna karakter yaitu أخلاق dan طبيعة . Selain bermakna karakter, kalimattersebut juga berarti watak, pembawaan, kebiasaan.[9] Begitu pula dalam kamusal-Munawwir, kata yang memiliki arti karakter sama persis dengan yangdisebutkan diatas.[10]

Selain itu, karakter merupakan nilai tentang sesuatu. Suatu nilai yang diwujudkan dalam bentuk prilaku individu itulah yang disebut karakter yang melakat dengan nilai dari prilaku tersebut. Karenanya tidak ada prilaku yang tidak bebas dari nilai. Hanya sejauhmana kita memahami nilai-nilai yang terkandung didalam perilaku indivindu yang memungkinkan dalam kondisi yang tidak jelas. Dalam arti bahwa nilai dari suatu perilaku sangat sulit dipahami oleh orang lain.[11]

Sedangkan karakter menurut para pakar pendidikan mendefinesikan sebagai berikut:

Menurut Wynne di dalam buku yang berjudul “pendidikan karakter solusi yang tepat untuk membangun bangsa”, mengambil istilah karakter dari bahasa yunani “charassein” yang artinya “to mark” (menandai atau mengukir), yang lebih berfokus pada melihat tindakan atau tingkah laku.

Wynne mengatakan bahwa ada dua pengertian karakter. Pertama, istilah karakter menunjukkan bagaimana bertingkah laku,apabila seseorang berperilaku tidak jujur, kejam, atau rakus, maka orang tersebut memanifestasikan karakter jelek, sebaliknya apabila seseoran berprilaku jujur, suka menolong, maka orang tersebut mamanifestasikan karakter yang mulia.Kedua, istilah karakter erat kaitannya dengan “personality”. Seseorang bisa disebut “orang berkarakter” kalau tingkah lakunya sesuai dengan kaidah moral.[12]

Sedangkan menurut Ratna megawati karakter ini mirip dengan ahlak yang berasal dari kata Khuluk, yaitu tabiat atau kebiasaan melakukan hal-hal yang baik. Imam al-Gazali menggambarkan bahwa karakter (akhlak) adalah tingkah laku seseorang yang berasal dari hati yang baik.[13] Al-Gazali juga berpandangan bahwa karakter (akhlak) adalah sesuatu yang bersemayam dalam jiwa, yang dengannya timbul perbuatan-perbuatan dengan mudan tanpa dipikirkan.[14]

Dari bebepa pengertian tersebut dapat dinyatakan bahwa karakter adalah kualitas atau kekuatan mental atau moral, akhlak atau budi pekerti individu yang merupakan kepribadian khusus yang menjadi pendorong atau penggerak, serta yang membedakan dengan individu lain. Dengan demikian, seseorang dapat dikatakan berkarakter jika telah berhasil menyerap nialai-nilai dan keyakinan yang dikehendaki oleh masyarakat serta digunakan sebagai kekuatan moral dalam hidupnya.

  1. 2.         Strategi Pendidikan Karakter

Sebagaimana yang telah kita ketahui, bahwa manusia diciptakan dengan dibekali berbagai potensi yang harus ditumbuh kembangkan, sehingga potesi tersebut sesuai dengan fungsi diciptakannya manusia itu sediri yaitu sebagai wakil Allah SWT dalam rangka untuk memelihara alam ini sebagaiman firman Allah SWT dalam surah  Al-Baqarah ayat 30[15]

øŒÎ)ur tA$s% š•/u‘ Ïps3Í´¯»n=yJù=Ï9 ’ÎoTÎ) ×@Ïã%y` ’Îû ÇÚö‘F{$# Zpxÿ‹Î=yz ( (#þqä9$s% ã@yèøgrBr& $pkŽÏù `tB ߉šøÿム$pkŽÏù à7Ïÿó¡o„ur uä!$tBÏe$!$#  ß`øtwUur ßxÎm7|¡çR x8ωôJpt¿2 â¨Ïd‰s)çRur y7s9 ( tA$s% þ’ÎoTÎ) ãNn=ôãr& $tB Ÿw tbqßJn=÷ès? ÇÌÉÈ

Artinya:

Dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat, “sesungguhnya aku hendak menjadikan khalifah dimuka bumi” Mereka berkata “ Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah dimuka bumi sedangkan kami bertasbis, memujiMu dan menyucikan namaMu?” Dia berfirman “ Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui” Selain itu, tujuan diciptakannya manusia adalah untuk mengabdi dan beribadah kepada Allah selaku Zat yang telah menciptakan manusia dan alam beserta isi, sebagaiman firmanNYA (Q. S 2: 30)[16]

$tBur àMø)n=yz £`Ågø:$# }§RM}$#ur žwÎ) Èbr߉ç7÷èu‹Ï9 ÇÎÏÈ

Artinya:

Dan tidaklah ku ciptakan Jin dan Manusia kecuali untuk menyembah kepadaKU.

Agar tugas dan tujuan diciptakannya manusia dalam kehidupan dunia ini terwujud, maka sisi karakter yang ada dalam diri manusia perlu dikembangkan sehingga akan membentuk suatu sifat dan perilaku, baik kepada Tuhan maupun kepada sesama manusia.

Jadi pembentukan karakter adalah merupakan suatu keharusan dan bahkan menjadi tujuan diselenggarakannya pendidikan. Hal itu pula yang menjadi tujuan diutusnya Nabi Muhammad Saw ketengah-tengah masyarakat jahiliyah, sebagaimana sabdanya dalam sebuah Hadist bahwa, sesungguhnya nabi saw di utus untuk menyempurnakan akhlak.

Pendidikan karakter (akhlak) dalam Islam menekankan penanaman sikap dan perilaku yang baik pada diri individu, sehingga ia mampu berbuat baik bagi dirinya dan masyarakatnya. Hubungan individu dengan masyarakat dalam islam, merupakan hubungan timbal balik, yang diikat oleh nilai dan norma etika yang disebut oleh Aminah Ahmad Hasan dengan istilah ‘il_qah rūhiyyah khuluqiyah’ (interaksi yang diikat oleh kode etik).[17]

Oleh karena itu, untuk membentuk karakter anak dapat dilakukan dengan berbagai macam pendekatan, selain yang dijelaskan diatas, pembentukan karakter anak dapat dilakukan dengan sikap sebagai berikut:[18]

  1. a.         Keteladanan

Dalam al-Qur’an kata teladan diproyeksikan dengan kata uswah yang kemudian dibelakangnya diberi kata sifat hasanah yang berarti baik, sehingga terdapat ungkapan uswah hasanah yang artinya teladan yang baik.[19]

Keteladanan adalah merupakan sebuah sikap dan perilaku yang muncul dari hati nurani yang paling dalam, sehingga apa yang dilakukukan tidak menyimpang dari kehendak Tuhan dan norma-norma yang ada ditengah-tengah masyarakat.[20]Oleh karena itu dalam mendidik manusia Allah menggunakan contoh atau teladan sebagai model terbaik agar mudah diserap dan diterapkan oleh manusia.[21]

Contoh atau teladan diperankan oleh para Rasul dan nabi Allah, sebagaimana firmanNya :

ô‰s)s9 tb%x. ö/ä3s9 öNÍkŽÏù îouqó™é& ×puZ|¡ym `yJÏj9 tb%x. (#qã_ötƒ ©!$# tPöqu‹ø9$#ur tÅzFy$# 4

 `tBur ¤AuqtGtƒ ¨bÎ*sù ©!$# uqèd ÓÍ_tóø9$# ߉ŠÏJptø:$# ÇÏÈ

Artinya:

Sesungguhnya pada diri mereka (Ibrahim dan Ummatnya) ada teladan yang baik bagimu; yaitu bagi orang-orang yang mengharap pahala dari Allah dan keselematan pada hari kemudian. Dan barangsiapa yang berpaling, maka sesungguhnya Dialah Allah yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji. (Al-Mumtahanah: 60:6)[22]

ô‰s)©9 tb%x. öNä3s9 ’Îû ÉAqߙu‘ «!$# îouqó™é& ×puZ|¡ym `yJÏj9 tb%x. (#qã_ötƒ ©!$#

tPöqu‹ø9$#ur tÅzFy$# tx.sŒur ©!$# #ZŽÏVx.

Artinya:

Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah suri tauladan yang baik bagimu yaitu bagi orang-orang yang mengharap rahmat Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut nama Allah (Al- Ahzab/33:21)[23]

Ayat tersebut menjelaskan pentingnya keteladanan, sehingga dalam mendidik manusia Allah menggunakan model yang harus dan layak dicontoh. Oleh karena itu, dalam membentuk karakter anak, keteladanan merupakan pendekatan pendidikan yang paling ampuh. Misalnya dalam keluarga, orang tua yang diamanahi berupa anak-anak harus menjadi teladan yang baik, dalam lingkup sekolah maka guru yang menjadi teladan bagi anak didik dalam segala hal. Tanpa keteladanan apa yang diajarkan kepada anak didik hanya akan menjadi teori belaka. Jadi, keteladanan guru dalam berbagai aktivitasnya akan menjadi cermin siswanya, Oleh sebab itu sosok guru yang bisa diteladani siswa adalah guru yang mempunyai jiwa dan karakter yang islami.

  1. b.        Penanaman Kedisiplinan

Amiroeddin Sjarif mengatakan bahwa kedisiplinan pada dasarnyaadalah suatu ketaatan yang sungguh-sungguh yang didukung oleh kesadaranuntuk menunaikan tugas dan kewajiban serta berperilaku sebagaimanamestinya menurut aturan-aturan atau tata kelakuan yang seharusnya berlakudalam suatu lingkungan tertentu.[24]

Satria Hadi Lubis, dalam bukunya “Saatnya Memperbaiki Diri” mengatakan bahwa disiplin berarti melakukan sesuatu sesuai dengan aturan. Baik aturan yang dibuat oleh manusia maupun aturan yang dibuat oleh Allah dalam bentuk hukum alam (ayat kauniyah) dan hukum kebenaran (ayat qouliyah). Semua aturan tersebut berperan besar dalam membentuk karakter (akhlak) individu.[25]

Dengan demikian, kedisiplinan dalam melaksanakan aturan dalam lingkungan atau kegiatan yang dilakukan secara rutin itu terdapat nilai-nilai yang menjadi tolek ukur tentang benar tidaknya suatu yang dilakukan oleh seseorang. Bentuk kedisiplinan yang diberlakukan adalah merupakan sebuah usaha untuk membentuk karakter individu.[26]

  1. c.         Pembiasaan

Anak akan tumbuh dan berkembang sebagaimana lingkungan yang mengajarinya dan lingkungan tersebut juga yang menjadi kebiasaan yang dihadapinya setiap hari. Jika lingkungan mengajarinya dengan kebiasaan berbuat baik, maka kelak anak akan terbiasa berbuat baik dan sebaliknya jika seorang anak tumbuh dalam lingkungan yang mengajarinya berbuat kejahatan, kekerasan, maka ia akan tumbuh menjadi pelaku kekerasan.

Banyak perilaku yang merupakan hasil pembiasaan yang berlangsung sejak dini. Oleh sebab itu, tanggung jawab orang tua adalah memberikan lingkungan terbaik bagi pertumbuhan anak-anaknya, karena kenangan utama bagi anak-anak adalah kepribadian ayah dan ibunya.

  1. d.        Menciptakan Suasana Yang Kondusif

Terciptanya suasanya yang kondusif akan memberikan iklim yang memungkinkan terbentuknya karakter. Oleh karena itu, berbagai hal yang terkait dengan upaya pembentukan karakter harus dikondisikan, terutama individu-individu yang ada dilakungan itu.[27]

  1. 3.         Fakto-Faktor yang Mempengaruhi Karakter

Karakter adalah sifat dasar yang dimiliki oleh setiap individu, oleh karena itu sifat tersebut dapat dikembangkan, dan perkembangan tersebut dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor. Ratna Megawangi menjelaskan bahwa terbentuknya karakter itu adalah ditentukan oleh 2 faktor, yaitu:

  1. a.    Faktor Intern (Endogen)

Setiap anak terlahir belum memiliki pengendalian terhadap dirinya sendiri ia belum mampu mengelola keinginan-keinginannya. Oleh sebab itulah, penanaman dan pembiasaan karakter pada anak dapat dilakukan sedini mungkin. Sebab, sekali kita lengah, fitrah tersebut akan segera diisi oleh karakter buruk yang ada disekitar. Seorang sufi, Bawa Muhaiyaddeen, menggambarkan bahwa manusia yang seharusnya tumbuh sesuai dengan fitrahnya-ibarat sebuah pohon yang sedang tumbuh, diokulasi atau ditempel dengan jenis pohon lainnya yang tidak sesuai dengan fitrahnya. Dengan begitu, otensi” pohon “ tersebut, yang seharusnya berbuah kemuliaan, ternyata berbuah kemudaratan. Namun, potensinya (akar atau fitrahnya) masih tetap berada dalam kesucian.[28]

  1. b.   Faktor Eksogen/Nature (Faktor Lingkungan)

Sebagaimana kita ketahui, bahwa manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah atau suci tanpa memiliki karakter (akhlak) tertentu, manusia dilahirkan hanya dibekali dengan pembawaan berupa nilai-nilai ketakwaan (kebaikan) dan nilai-nilai kejelekan (kejahatan) dan keduanya sangat berpotensi untuk dikembangkan melalui berbagai pengaruh.

Secara garis besar faktor lingkungan yang mempengaruhi karakter menurut Ratna megawati terbagi dalam dua bagian:

1)    Pendidikan

Sanubari. Potensi tersebut harus disyukuri dengan cara mengisinya dengan ajaran dan pendidikan.[29] Selanjutnya, Zakiah Daradjat juga menyatakan bahwa setiap orang tua dan guru ingin membina anaknya ingin menjadi orang yang baik, mempunyai kepribadian dan sikap mental yang kuat serta akhlak yang terpuji. Semuanya itu dapat diusahakan melalui pendidikan, baik pendidikan disekolah atau diluar sekolah. Setiap pengalaman yang dilalui anak baik melalui penglihatan dan pendengaran akan menentukan pribadinya.[30]

Hal ini sesuai pula dengan yang dilakukan Luqmanul Hakim kepada anaknya, terlihat pada ayat berikut:

øŒÎ)ur tA$s% ß`»yJø)ä9 ¾ÏmÏZö/ew uqèdur ¼çmÝàÏètƒ ¢Óo_ç6»tƒ Ÿw õ8Ύô³è@ «!$$Î/ ( žcÎ) x8÷ŽÅe³9$# íOù=Ýàs9 ÒOŠÏàtã ÇÊÌÈ   $uZøŠ¢¹urur z`»|¡SM}$# Ïm÷ƒy‰Ï9ºuqÎ/ çm÷Fn=uHxq ¼çm•Bé& $·Z÷dur 4’n?tã 9`÷dur ¼çmè=»|ÁÏùur ’Îû Èû÷ütB%tæ Èbr& öà6ô©$# ’Í< y7÷ƒy‰Ï9ºuqÎ9ur ¥’n<Î) 玍ÅÁyJø9$# ÇÊÍÈ

Artinya:

“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, diwaktu ia member pelajaran padanya. “ Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan ALLAH, sesungguhnya mempersekutukan (ALLAH) adalah benar-benar kezhaliman yang besar. Dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada kedua ibu bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun.bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu.hanya kepada-kulah kembalimu. (QS. Luqman, 31: 13-14).[31]

Ayat tersebut selain menggambarkan tentang pelaksanaan pendidikan yang dilakukan Luqmanul Hakim, juga berisi materi pelajaran dan yang utama di antaranya adalah pendidikan tauhid atau keimanan, karena keimananlah yang menjadi salah satu dasar yang kokoh bagi pembentukan karakter (akhlak).

2)    Sosial

Sosialisasi juga sangat berperan penting dalam pembentukan karakter anak seperti dalam lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat.

  1. Lingkungan sosial dalam keluarga

Keluarga merupakan tempat pertama dan utama dimana seorang anak dididik dan dibesarkan. Funsi utama keluarga seperti yang diuraikan dalam resolusi majelis umum PBB adalah “ keluarga sebagai wahana untuk mendidik, mengasuh dan mensosialisasikan anak, mengembangkan kemampuan seluruh anggotanya agar dapat menjalankan fungsinya dimasyarakat dengan baik serta memberikan kepuasan dan lingkungan yang sehat guna tercapainya keluarga sejahtera”.[32]

  1. Lingkungan sosial sekolah

Interaksi sosial dalam lingkungan di keluarga sangat berperan dalam membentuk karakter anak. Namun kematangan emosi social ini selanjutnya sangat dipengaruhi oleh lingkungan sekolah. Sekolah adalah tempat yang sangat strategis untuk pendidikan karakter, karena anak-anak dari semua lapisan akan mengenyam pendidikan disekolah. Selain itu, apa yang didapatkannya disekolah akan mempengaruhi pembentukan karakternya.

Dari uraian diatas jelas bahwa kesamaan motif yang didasarkan pada atas kesamaan kebutuhan, menyebabkan orang-orang menghimpun diri dan bekerjasama di dalam suatu wadah yang disebut dengan lembaga atau institusi, keadaan seperti itu berlangsung juga dalam bidang pendidikan, sehingga dapat dikatakan bahwa pendidikan diluar lingkungan keluarga sebagai suatu kebutuhan bersama, harus dilaksanakan secara teratur, dan terarah.

  1. 4.        Prosedur Pengembangan Kurikulum Madrasah Ibtidaiyah/ Sekolah Dasar Berbasis Karakter

Prosedur pengembangan kurikulum berbasis pendidikan karakter adalah beranjak dari problem karakter yang dihadapi sehingga dirasa perlu mengintegrasikan nilai-nilai karakter ke dalam seluruh komponen pendidikan. Prosedur pengembangan kurikulum Madrasah Ibtidaiyah berbasis pendidikan karakter dapat ditempuh melalui langkah-langkah berikut:[33]

  1. a.         Sosialisasi

Tim dari pusat pengembangan kurikulum seharusnya memberikan sosialisasi tentang pendidikan karakter kepada kepala sekolah, guru, dan tenaga kependidikan lainnya. Tujuan sosialisasi adalah untuk menyamakan persepsi tentang konsep pendidikan karakter. Materi sosialisasi antara lain tentang kebijakan kementerian pendidikan nasional, konsep pendidikan karakter dan budaya serta bagaimana mengimplementasikan pendidikan karakter ke dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Kegiatan sosialisasi tersebut kemudian dilanjutkan pada lingkungan satuan pendidikan dengan melibatkan komite sekolah dan orang tua peserta didik. Tujuannya adalah untuk menyamakan persepsi di antara pendidik dan tenaga kependidikan yang ada di lingkungan satuan pendidikan.

  1. b.        Magang/ Studi Banding Di Sekolah Best Practice

Beberapa orang guru dari setiap satuan pendidikan harus diberikan kesempatan untuk magang di sekolah best practice pendidikan karakter yang ada di daerah lain. Tujuan magang ini adalah untuk menimba pengetahuan utuh dan pengalaman berkaitan dengan implementasi pendidikan karakter. Dengan demikian, maka setelah selesainya kegiatan studi banding/ magang tersebut diharapkan mereka dapat menjadi agent pelaksana pendidikan karakter.

  1. c.         Pengembangan Dokumen Kurikulum

Pengembangan dokumen kurikulum madrasah diawali dengan melakukan identifikasi dan analisis nilai-nilai karakter yang terkandung di dalam Standar Kelulusan madrasah (SKL). Hal ini dilakukan untuk mengetahui nilai-nilai karakter yang perlu diintegrasikan madrasah ke dalam kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP), baik pada dokumen I dan dokumen II. Hasil analisis terhadap nilai-nilai karakter yang terkandung di dalam SKL kemudian diklasifikasi kepada beberapa aspek karakter, seperti: nilai relegius, nilai toleransi, nilai menghargai waktu, nilai budaya ilmiah dan lain-lain. Adapun rumusan SKL Madrasah Ibtidaiyah dan nilai-nilai karakter yang terkandung di dalamnya adalah sebagai berikut:

No.

Rumusan SKL[34]

Nilai Karakter

1.

Menjalankan ajaran agama yang dianut sesuai dengan tahap perkembangan anak Jujur dan bertanggung jawab.

2.

Mengenal kekurangan dan kelebihan diri sendiri Jujur

3.

Mematuhi aturan-aturan sosial yang berlaku dalam lingkungannya Bertanggung jawab

4.

Menghargai keberagaman agama, budaya, suku, ras, dan golongan sosial ekonomi di lingkungan sekitarnya Peduli

5.

Menggunakan informasi tentang lingkungan sekitar secara logis, kritis, dan kreatif dengan bimbingan guru/ pendidik Cerdas dan kreatif

6.

Menunjukkan kemampuan berpikir logis, kritis, dan kreatif, dengan bimbingan guru Cerdas dan Kreatif

7.

Menunjukkan rasa keingintahuan yang tinggi dan menyadari potensinya Bersungguh-sungguh

8.

Menunjukkan kemampuan memecahkan masalah sederhana dalam kehidupan sehari-hari Peduli

9.

Menunjukkan kemampuan mengenali gejala alam dan sosial di lingkungan sekitar Peduli

10.

Menunjukkan kecintaan dan kepedulian terhadap lingkungan Peduli

11.

Menunjukkan kecintaan dan kebanggaan terhadap bangsa, negara, dan tanah air Indonesia Cinta tanah Air

12.

Menunjukkan kemampuan untuk melakukan kegiatan seni dan budaya lokal Berbudaya

13.

Menunjukkan kebiasaan hidup bersih, sehat, bugar, aman, dan memanfaatkan waktu luang Disiplin

14.

Berkomunikasi secara jelas dan santun Ramah  dan santun

15.

Bekerjasama dalam kelompok, tolong- menolong, dan menjaga diri sendiri dalam lingkungan keluarga dan teman sebaya Tolong menolong

16.

Menunjukkan kegemaran membaca dan menulis Tekun

17.

Menunjukkan keterampilan menyimak, berbicara, membaca, menulis, dan berhitung. Teliti

Hasil pemetaan nilai-nilai karakter tersebut kemudian dijadikan panduan dalam menyusun silabus dan Rencana Pelaksanaan Pengajara (RPP). Setiap point dari Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) yang dirumuskan juga dianalisis dan diklasifikasi beberapa nilai-nilai karakter yang terkandung di dalamnya.

Agar mengefektifkan pelaksanaan pendidikan karakter, sekolah perlu membuat suatu jaringan topik yang terintegrasi dengan nilai-nilai karakter pada setiap mata pelajaran, materi muatan lokal dan pengembangan diri. Berikut misal jaringan tema yang harus dikembangkan oleh guru pada masing-masing Madrasah Ibtidaiyah.

  1. d.        Menyusun Rencana Aksi Sekolah/ Madrasah (RAS)

Rencana aksi madrasah di susun melalui penelaahan terhadap Rencana Kerja Sekolah yang telah disusun secara komprehensif sebelumnya. Pada rencana aksi sekolah unsur-unsur yang berkaitan dengan pendidikan karakter di programkan dan di integrasikan secara khusus.

  1. e.         Workshop Penyusunan Dokumen I dan Dokumen II

Dalam tahapan ini, Tim pengembang kurikulum harus mengadakan workshop penyempurnaan dokumen I dan dokumen II yang mengintegrasikan pendidikan karakter dengan mempertimbangkan hasil analisis konteks SKL, aspirasi masyarakat dan Rencana Aksi Sekolah (RAS). Penyempurnaan dilakukan terhadap dokumen I kurikulum (antara lain visi, misi, dan tujuan madrasah) dan dokumen II (silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran).

Penyempurnaan terhadap dokumen I dilakukan dengan mengintegrasikan nilai-nilai pendidikan karakter ke dalam rumusan visi dan misi. Misal dari hasil penyempurnaan terhadap dokumen I Madrasah Ibtidaiyah adalah sebagai berikut:

  1. Visi Madrasah

Terwujudnya peserta didik yang beriman dan bertaqwa, unggul dalam bidang teknologi, seni dan olahraga, jujur, peduli, dan berbudaya serta menjadikan sekolah sebagai tempat pendidikan bagi anak.

  1. Misi Madrasah

1)      Meningkatkan kemampuan profesionalisme kepala madrasah, guru dan tenaga kependidikan.

2)      Mewujudkan peserta didik yang unggul memiliki ilmu pengetahuan dan teknologi, beriman dan taqwa, mampu melanjutkan ke jsenjang golongan pendidikan yang lebih tinggi.

3)      Meningkatkan kegiatan pemberdayaan peserta didik, pembinaan generasi muda, olahraga dan kepramukaan.

4)      Memelihara, membina dan mengembangkan nilai-nilai budaya daerah dan nasional sebagai upaya membangun peserta didik yang berbudaya.

5)      Meningkatkan kinerja tenaga kependidikan dan memberikan pelayanan prima terhadap peserta didik dan masyarakat.

6)      Melaksanakan pembelajaran dan bimbingan secara efektif, sehingga setiap peserta didik berkembang secara optimal, sesuai dengan potensi yang dimilikinya.

7)      Melaksanakan pendidikan yang ada kaitannya dengan kebutuhan peserta didik dan masyarakat/orang tua.

  1. Tujuan Sekolah

1)      Meningkatkan dan mengoptimalkan professional Kepala Madrasah dan Guru dengan penataran kelompok kerja kepala madrasah (K3M) serta kelompok kerja guru madrasah (KKGM).

2)      Pada tahun 2014 proporsi lulusan yang diterima di Madrasah Tsanawiyah/ SLTP favorit 90%.

3)      Meningkatkan pengamalan kualitas ajaran agama dan budi pekerti peserta didik.

4)      Meningkatkan peranan peserta didik dalam olah raga dan kepramukaan.

5)      Memiliki tim kesenian daerah, keagamaan dan nasional yang mampu tampil pada acara sekolah.

6)      Memberikan pelayanan yang prima tentang informasi kependidikan kepada masyarakat.

  1. f.          Perencanaan dan Penerapan Pendidikan Karakter

Penyelenggaraan pendidikan karakter di Madrasah Ibtidaiyah dapat  dilakukan dengan mengintegrasikan nilai-nilai pendidikan karakter kepada empat (4) kawasan, yaitu: 1) seluruh mata pelajaran, 2) muatan lokal, 3) pengembangan diri, dan 4) pengelolaan madrasah.

1)        Mengintegrasikan kepada Setiap Mata Pelajaran

Mengintegrasikan nilai-nilai karakter kepada setiap mata pelajaran bertujuan untuk memperkenalkan nilai-nilai pendidikan karakter pada setiap mata pelajaran sehingga peserta didik menyadari akan pentingnya nilai-nilai tersebut. Penginternalisasian nilai-nilai karakter ke dalam tingkah laku peserta didik sehari-hari dapat dilakukan melalui proses pembelajaran, baik yang berlangsung di dalam maupun di luar kelas. Pada dasarnya kegiatan pembelajaran, selain untuk menjadikan peserta didik menguasai kompetensi yang ditargetkan, juga dirancang untuk menjadikan peserta didik mengenal, menyadari, peduli, dan memiliki karakter yang baik.

Langkah pengintegrasian nilai-nilai karakater  kepada setiap mata pelajaran dapat dilakukan dengan mengidentifikasi, menganalisis, mengembangkan dan mencantumkan nilai-nilai karakter yang terdapat di dalam kompetensi dasar (KD) ke dalam dokumen silabus dan RPP, serta menyesuaikannya dengan Standar Isi (Permendiknas No. 22 tahun 2006).

Jumlah nilai-nilai pendidikan karakter yang dapat diintegrasikan kepada Kompetensi Dasar (KD) pada setiap mata pelajaran adalah berbeda, sebab redaksi Kompetensi Dasar tersebut menentukan keterkaitannya dengan nilai-nilai karakter yang dikembangkan. Sehingga jumlah nilai-nilai karakter yang diintegrasikan kepada setiap kompetensi dasar (KD) suatu materi pelajaran adalah bervariasi, yakni ada yang sedikit dan ada yang banyak.

Pengembangan nilai-nilai karakter ke dalam silabus ditempuh melalui cara-cara berikut ini:

1)        Mengkaji Standar Komptensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) pada Standar Isi (SI) untuk menentukan apakah nilai-nilai karakter yang tercantum itu sudah tercakup atau terintegrasi di dalamnya.

2)        Menggunakan tabel 1 yang memperlihatkan keterkaitan antara SK dan KD dengan nilai dan indikator untuk menentukan nilai yang akan dikembangkan. Misalnya sebagai berikut.

Tabel 1. Penenetuan SK/ KD, Nilai dan Indikator Nilai di MI

Mata

Pelajaran Sekolah Dasar

Standar

Kompe

Tensi

Kompe

tensi

Dasar

Nilai

Indikator Berdasarkan Jenjang Kelas

1-3

4-6

Ilmu  Pengeta- huan Alam  (IPA) Mengenalanggotatubuh Mengenal bagian tubuh dan perawatan nya

Rasa ingin tahu

Menunjuk kan pengamatanyang seriusterhadapanggota

tubuhnya

Mengajukanpertanyaan  yangberkaitandengan  fungsi

anggota  tubuh

dan perawa-tannya.

Senang membaca

mengemukakandengan  antusiasfungsi  bagianbagian tubuh

berdasarkan

hasil bacaan

Mengemuka kandengan  antusiascara  merawatbagian-bagian

tubuh

berdasarkan

hasil bacaan

Peduli sosial

tidak mengo lok-olok teman yangmemilikiketerbatasanfisik (anggota tubuh) MauBerkomuni kasidengan  temanyang

mengalami

keterbatasan

fisik

(anggota tubuh)

Mengidenti fikasikebutuhantubuh agartumbuh

sehat

dan kuat

(makanan, air,

pakaian,

udara,

lingkungan

sehat)

Rasa ingin tahu

Menunjuk kanantusiasmedalammemperoleh

informasi

tentang

kebutuhan  tubuh

agar sehat  dan kuat.

Menanyakanaspek lain  yang terkait dengankebutuhantubuh agar

sehat

dan kuat

Kerja Keras

menyimakpenjelasangurudengan

serius,

mengajukan

pertanyaan dan

pendapat

tentang

kebutuhan

tubuh

agar sehat

dan kuat

Memilahfakta/ informasiyang relevandan tidak

relevan  secara

teliti  dalam

mengidentifi kasi kebutu han

tubuh agar

sehat

dan kuat

Mengenalanggotatubuh

Membiasakan hidup sehat

Disiplin Selalumencucitangansebelum

dan sesudah

makan

Bersahabat/Komunikatif Membantutemanmembersih kanbagian tubuh

yang terkena

kotoran

a)      Mencantumkankan nilai-nilai karakter dalam tabel 1 ke dalam silabus (dokumen II) dan kemudian memetakan indikator keberhasilan nilainya. Misal format silabusnya adalah sebagai berikut.

Tabel 2. Contoh Format Silabus Berbasis Pendidikan Karakter

 

No.

Kompe

tensi

Dasar

Indikator

Butir-butir Karakter

Integrasi butir ke dalam Pembelajaran

Metode

Pembelajaran

Evaluasi

Sumber

1

2

3

4

5

6

7

8

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

b)        Mencantumkan nilai-nilai karakter yang sudah tertera dalam silabus ke dalam RPP. Misal format RPP nya adalah sebagai berikut:

 RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

( RPP )

Sekolah                               :   Madrasah Ibtidaiyah Swasta Al-Ansory

Mata Pelajaran                  :   Matematika Kelas

Semester                             :   VI/1

Pertemuan Ke-                  :   1-3

Alokasi Waktu                   :   6 x 35 menit

  1. Standar Kompetensi       :

1.  Melakukan operasi hitung bilangan bulat dalam pemecahan masalah.

  1. Kompetensi Dasar

1.1 Menggunakan sifat-sifat operasi hitung termasuk operasi campuran, FPB, dan   KPK

  1. Tujuan Pembelajaran**

Peserta didik dapat :

  • Melakukan pekerjaan hitung campuran
  • Mencari Faktor Prima Suatu Bilangan

Karakter siswa yang diharapkan :   Disiplin ( Discipline ),dan  Tanggung jawab ( responsibility ).

  1. Materi Ajar

Operasi Hitung Bilangan  Bulat

  • Sifat-Sifat Operasi Hitung
  • Pengerjaan Hitung Campuran
  • Faktorisasi Prima untuk menentukan FPB dan KPK
  1. Metode Pembelajaran

games, diskusi

  1. Langkah-Langkah Pembelajaran

Pertemuan ke 1

  • Kegiatan Awal

-      Melakukan permainan berhitung bilangan bulat dari 1-60 dengan cara zig zag.

  • Kegiatan Inti

&    Eksplorasi

Dalam kegiatan eksplorasi, guru:

F Melakukan permainan (games) mengenai bilangan bulat, diskusi, memberi contoh besaran sehari-hari yang menggunakan bilangan positif dan negatif, serta menganalisis dan menyimpulkan definisi bilangan bulat.

&   Elaborasi

Dalam kegiatan elaborasi, guru:

F Melakukan percobaan dan observasi dengan menggunakan garis bilangan, pengamatan, analisis data dan diskusi untuk dapat menentukan letak bilangan bulat dalam garis bilangan.

&   Konfirmasi

Dalam kegiatan konfirmasi, guru:

F Guru bertanya jawab tentang hal-hal yang belum diketahui siswa

F Guru bersama siswa bertanya jawab meluruskan kesalahan pemahaman, memberikan penguatan  dan penyimpulan

  • Kegiatan Penutup

Dalam kegiatan penutup, guru:

F Siswa dan guru mengadakan refleksi tentang proses dan hasil belajar.

F Siswa diberi tugas mengerjakan soal-soal latihan.

Pertemuan ke 2

  • Kegiatan Awal

-      Motivasi dan apersepsi

  • Kegiatan Inti

&    Eksplorasi

Dalam kegiatan eksplorasi, guru:

F Memberikan contoh besaran sehari-hari yang menggunakan bilangan positif dan negatif.

&   Elaborasi

Dalam kegiatan elaborasi, guru:

F Melakukan diskusi tentang contoh-contoh yang sudah dikemukakan oleh siswa.

&   Konfirmasi

Dalam kegiatan konfirmasi, guru:

F Guru bertanya jawab tentang hal-hal yang belum diketahui siswa

F Guru bersama siswa bertanya jawab meluruskan kesalahan pemahaman, memberikan penguatan  dan penyimpulan

  • Kegiatan Penutup

Dalam kegiatan penutup, guru:

F Siswa dan guru mengadakan refleksi tentang proses dan hasil belajar.

F Siswa diberi tugas mengerjakan soal-soal latihan.

Pertemuan ke 3

  • Kegiatan Awal

-      Memberikan motivasi.

-      Melakukan tanya jawab dan diskusi tentang materi sebelumnya.

  • Kegiatan Inti

&    Eksplorasi

Dalam kegiatan eksplorasi, guru:

F sifat-sifat operasi hitung termasuk operasi campuran, FPB, dan   KPK

&   Elaborasi

Dalam kegiatan elaborasi, guru:

F Melakukan percobaan, diskusi dan latihan dengan fasilitas soal-soal

&   Konfirmasi

Dalam kegiatan konfirmasi, guru:

F Guru bertanya jawab tentang hal-hal yang belum diketahui siswa

F Guru bersama siswa bertanya jawab meluruskan kesalahan pemahaman, memberikan penguatan  dan penyimpulan

  • Kegiatan Penutup

Dalam kegiatan penutup, guru:

F Memberikan soal latihan untuk lebih memantapkan keterampilan siswa.

F Merefleksi proses dan hasil belajar.

  1. Alat/Sumber Belajar
  • Buku Pelajaran Matematika untuk Sekolah Dasar Kelas 6 .
  • Matematika SD untuk Kelas VI  6A Esis
  • Matematika Progesif  Teks Utama SD Kelas 6
  1. Penilaian

Indikator Pencapaian

Kompetensi

Teknik Penilaian

Bentuk Instrumen

Instrumen/ Soal

  • Melakukan pekerjaan hitung campuran
  • Mencari Faktor Prima Suatu Bilangan
Tugas IndVidu Laporan buku pekerjaan rumah
  • Coba kalian simpulkan definisi bilangan bulat!
  • Tuliskan 3 contoh kegiatan sehari-hari yang melibatkan bilangan bulat!
  • Tuliskan kegiatan kalian selama satu hari yang melibatkan bilangan negatif!
  • Carikanlah Faktor Prima Suatu Bilangan
  • 4.655 + 3.561 = ….
  • 454 x 235 = …

Format Kriteria Penilaian

Produk ( hasil diskusi )

No.

Aspek

Kriteria

Skor

1.

Konsep * semua benar* sebagian besar benar* sebagian kecil benar* semua salah

4

3

2

1

Performansi

No.

Aspek

Kriteria

Skor

1.

2.

PengetahuanSikap * Pengetahuan* kadang-kadang Pengetahuan* tidak Pengetahuan* Sikap

* kadang-kadang Sikap

* tidak Sikap

4

2

1

4

2

1

Lembar Penilaian

No

Nama Siswa

Performan

Produk

Jumlah Skor

Nilai

Pengetahuan

Sikap

1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

9.

10.

CATATAN :

  Nilai = ( Jumlah skor : jumlah skor maksimal ) X 10.

@ Untuk siswa yang tidak memenuhi syarat penilaian KKM maka diadakan Remedial.

                                                                            Padangsidimpuan 15, April 2012

Mengetahui,-

Kepala Sekolah                                           Guru Mapel Matematika

Hamdan Husein, M. Pd                               Batubara, S.Pd.I

NIP :                                                            NIP :

c)      Mengembangkan proses pembelajaran peserta didik secara aktif yang memungkinkan peserta didik memiliki kesempatan belajar yang baik, berpikir dengan logikanya, terbuka dengan guru, meneledani guru, dan menunjukkan perilaku yang sesuai nilai-nilai karakter yang dikembangkan.

d)     Memberikan bantuan kepada peserta didik, baik yang mengalami kesulitan dalam memahami arti penting karakter yang positif maupun dalam merangsang munculnya perilaku anak didik yang baik.[35]

2)        Mengintegrasikan ke dalam Mata Pelajaran Muatan Lokal

Muatan lokal merupakan kegiatan kurikuler untuk mengembangkan kompetensi yang disesuaikan dengan ciri khas dan potensi daerah, termasuk keunggulan daerah, yang materinya tidak dapat dikelompokkan ke dalam mata pelajaran. Substansi muatan lokal ditentukan oleh satuan pendidikan berdasarkan ciri khas, potensi dan keunggulan daerah, serta ketersediaan lahan, sarana prasarana, dan tenaga pendidik. Sasaran pembelajaran muatan lokal adalah pengembangan jiwa kewirausahaan dan penanaman nilai-nilai budaya sesuai dengan lingkungan. Nilai-nilai kewirausahaan yang dikembangkan antara lain inovasi, kreatif, berpikir kritis, eksplorasi, komunikasi, kemandirian, dan memiliki etos kerja. Nilai-nilai budaya yang dimaksud antara lain kejujuran, tanggung jawab, disiplin, kepekaan terhadap lingkungan, dan kerja sama.

Penanaman nilai-nilai kewirausahaan dan budaya tersebut diintegrasikan di dalam proses pembelajaran yang dikondisikan supaya nilai-nilai tersebut dapat menjadi sikap dan perilaku dalam kehidupan sehari-hari.

Pengintegrasian pendidikan karakter ke dalam  muatan local dapat dilakukan melalui pengembangan standar kompetensi (SK) dan kompetensi dasar (KD) setiap muatan lokal yang diselenggarakan. Misalnya, muatan Lokal yang diselenggarakan di MI adalah Budaya Adat Minangkabau (BAM).

Gambar 1.  Budaya Adat Minangkabau (BAM).

Mata pelajaran muatan lokal ini bertujuan memberikan pengetahuan dan pemahaman tentang budaya adat Minangkabau beserta nilai-nilai pendidikan karakter yang terkandung di dalamnya.

3)        Mengintegrasikan pada Program Pengembangan Diri

Dalam program pengembangan diri, perencanaan dan pelaksanaan pendidikan karakter dilakukan melalui pengintegrasian ke dalam kegiatan sehari-hari di sekolah. Misalnya seperti kegiatan berikut.

a)      Kegiatan rutin sekolah

Kegiatan rutin merupakan kegiatan yang dilakukan peserta didik secara terus menerus dan konsisten setiap saat. Contoh kegiatan ini adalah upacara pada hari besar kenegaraan, pemeriksaan kebersihan badan (kuku, telinga, rambut, dan lain-lain) setiap hari Senin, beribadah bersama atau shalat bersama setiap zdhuhur, berdoa waktu mulai dan selesai pelajaran, mengucap salam bila bertemu guru, tenaga kependidikan, atau teman.

Gambar 2. Kebersihan Kelas                Gambar 3. Upacara Bendera

b)      Kegiatan spontan

Kegiatan spontan yaitu kegiatan yang dilakukan secara spontan pada saat itu juga. Kegiatan ini dilakukan biasanya pada saat guru dan tenaga kependidikan yang lain mengetahui adanya perbuatan yang kurang baik dari peserta didik yang harus dikoreksi pada saat itu juga. Apabila guru mengetahui adanya perilaku dan sikap yang kurang baik maka pada saat itu juga guru harus melakukan koreksi sehingga peserta didik tidak akan melakukan tindakan yang tidak baik itu. Contoh kegiatan itu: membuang sampah tidak pada tempatnya, berteriak-teriak sehingga mengganggu pihak lain, berkelahi, memalak, berlaku tidak sopan, mencuri, berpakaian tidak senonoh.

Kegiatan spontan berlaku untuk perilaku dan sikap peserta didik yang tidak baik sehingga perlu ditegur dan perbuatan yang baik untuk dipuji, misalnya: memperoleh nilai tinggi, menolong orang lain, memperoleh prestasi dalam olah raga atau kesenian, berani menentang atau mengkoreksi perilaku teman yang tidak terpuji.

Gambar 4 Nilai Cinta Damai

c)      Keteladanan

Keteladanan adalah perilaku dan sikap guru dan tenaga kependidikan yang lain dalam memberikan contoh terhadap tindakan-tindakan yang baik sehingga diharapkan menjadi panutan bagi peserta didik untuk mencontohnya. Jika guru dan tenaga kependidikan yang lain menghendaki agar peserta didik berperilaku dan bersikap sesuai dengan nilai-nilai karakter maka guru dan tenaga kependidikan yang lain adalah orang yang pertama dan utama memberikan contoh berperilaku dan bersikap sesuai dengan nilai-nilai itu.

Misalnya, berpakaian rapi, datang tepat pada waktunya, bekerja keras, bertutur kata sopan, kasih sayang, perhatian terhadap peserta didik, jujur, menjaga kebersihan.

4)        Mengintegrasikan ke Manajemen Pengelolaan Madrasah

Untuk mendukung pelaksanaan pendidikan karakter maka manajemen pengelolaan madrasah harus dikondisikan sebagai pendukung kegiatan pendidikan karakter. Pengelolaan sarana madarasah harus mencerminkan kehidupan nilai-nilai karakter yang diinginkan. Misalnya: toilet yang selalu bersih, bak sampah ada di berbagai tempat dan selalu dibersihkan, madrasah terlihat rapi, alat belajar ditempatkan teratur,  disediakan tempat wudhu dan jumlah krannya yang layak, Mushalla atau sejenis ruang shalat yang layak digunakan para siswa dan guru untuk shalat dzuhur berjamaah dan shalat dhuha berjamaah, dan disediakan juga sarana bacaan religious seperti: AlQuran/ Juz Amma dan terjemahannya.

Wujud nilai keterbukaan dalam pengelolaan dan pelayanan sekolah juga menjadi proritas penting dalam pelaksanaan pendidikan karakter. Misalnya Kepala Madarasah harus selalu berkomunikasi dengan semua guru tentang program kerja sekolah, laporan keuangan Madrasah, dan lain sebagainya. Begitu pula guru harus menanamkan nilai-nilai keterbukaan kepada semua anak didiknya, baik  dalam pembelajaran di kelas maupun pada kegiatan ekstra kulikuler.

Adapun contoh kegiatan pengkondisian pendidikan karakter pada pelayanan madrasah adalah seperti: pelaksanaan kegiatan pembacaan Asmaul Husna pada pagi hari, sholat dhuha dan shalat zhuhur berjama’ah, kultum setiap Jum’at pagi yang diisi oleh peserta didik, guru ataupun dari pihak luar, membaca surat Yasin 1x 2 minggu, pesantren  kilat Ramadhan, pelaksanaan buka puasa bersama, pelaksanaan ‘Idul Qurban, merayakan hari-hari besar keagamaan; serta guru piket menyambut kedatangan siswa pagi hari di gerbang sekolah sambil bersalaman.

Gambar 5. Siswa mencium tangan guru piket yang sengaja menyambut kedatangan siswa, dan orang tua hanya boleh mengantarkan anaknya sampai pagar sekolah saja.

Tujuan dari kegiatan pembiasaan mengucapkan salam kepada ibu guru adalah unuk menumbuhkan nilai sopan santun pada anak, sementara peraturan yang membatasi orang tua mengantar anak hanya sampai pintu gerbang saja adalah untuk mengembangkan nilai kemandirinan peserta didik.

Setiap  ruangan  sekolah  baik  di dalam maupun di luarnya juga perlu dihiasi dengan kata-kata mutiara, semboyan, ayat AlQuran dan hadist nabi. Di samping itu dalam rangka mengembangkan nilai kejujuran, sekolah menyediakan fasilitas tempat temuan barang hilang, kotak saran dan pengaduan, dan buku kontak bina prestasi siswa (KOBINSI) sebagaimana diterapkan MIN 1 Malang untuk menguji kejujuran siswa di luar sekolah.[36] Sementara untuk meningkatkan nilai-nilai kebersihan, sekolah menyediakan tempat sampah kering dan basah dan untuk keindahan dan kenyaman sekolah juga membuat kolam dan taman burung di halaman depan. Siswa dibiasakan membuang sampah pada tempatnya dan ada lomba memungut sampah daun di pagi hari, siswa yang paling banyak mengumpulkan daun mendapat penghargaan sebagai pahlawan kebersihan.

Gambar 6. Kotak Kejujuran dan Kotak Amal SDN Birugo-Padang

 

Tabel 3. Contoh Buku Kontak Bina Prestasi MIN 1 Malang

No.

Jenis Aktivitas

Skala Penilaian

Paraf Orang tua Paraf guru
TP M R SR
1. Melaksanakan Solat lima waktu
2. Membaca AlQuran
3. Belajar malam
5. Membantu orang tua
6. Menghafal AlQuran
7. Mengulang  pelajaran yang telah lalu

Keterangan:

  1. TP = Tidak pernah
  2. M  = Malas
  3. R   = Rajin
  4. SR = Sangat Sering

Untuk mendukung semua kegiatan pendidikan karakter di atas tentunya harus ditetapkan sebuah peraturan tata tertib yang mengikat semua civitas akademika madrasah. Misal tata tertibnya adalah sebagai berikut:

1)      Tata Tertib Siswa

a)    Peraturan Siswa untuk kelas I s.d kelas II

(1)      Semua warga kelas berusaha meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah.

(2)      Setiap anak harus dapat bersenang-senang.

(3)      Setiap anak harus belajar.

(4)      Setiap anak harus melakukan tugasnya.

(5)      Setiap anak harus saling menghargai.

b)   Peraturan Kelas III s.d kelas VI

(1)      Semua warga kelas berusaha meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah.

(2)      Semua warga kelas berusaha meningkatkan disiplin diri.

(3)      Semua warga  kelas menciptakan suasana aman di kelas.

(4)      Semua warga kelas membudayakan hidup bersih, indah dan sehat.

(5)      Semua warga kelas aktif dan kreatif dalam belajar

2)      Tata Tertib Perpustakaan

a)    Siswa, guru, karyawan serta pengunjung lain yang memasuki ruangan perpustakaan diharap melapor kepada pengelola/petugas perpustakaan dan mengisi daftar pengunjung.

b)   Di dalam ruangan perpustakaan harap menjaga ketertiban dan kesopanan supaya tidak mengganggu orang lain yang sedang membaca atau sedang belajar.

c)    Setiap peminjam buku, majalah harus memiliki kartu anggota perpustakaan.

Contoh tata tertib ini dapat dikembangkan oleh kepala Sekolah, Guru dan Peserta Didik beserta Komite Sekolah sesuai dengan kebutuhan bersama.

  1. g.      Penilaian Keberhasilan

Penilaian keberhasilan ini haruslah dilakukan setiap sekolah untuk mengetahui tingkat keberhasilan program-program yang dijalankan dan mengidentifikasi kendala-kendala dan kelemahan-kelemahan yang dimiliki madrasah, serta untuk memperoleh pertimbangan dalam melakukan refleksi dan peningkatan mutu program pendidikan karakter.

Penilaian keberhasilan pendidikan karakter ini menggunakan indikator-indikator berupa perilaku semua warga dan kondisi sekolah yang teramati. Penilaian ini dilakukan secara terus menerus melalui berbagai strategi. Supervisi dilakukan mulai dari menelaah kembali perencanaan, kurikulum, dan pelaksanaan semua kegiatan yang berkaitan dengan pendidikan karakter, seperti:

1)      Implementasi program pengembangan diri berkaitan dengan pengembangan nilai pendidikan budaya dan karakter bangsa dalam budaya sekolah.

2)      Kelengkapan sarana dan prasarana pendukung implementasi pengembangan nilai pendidikan budaya dan karakter bangsa.

3)      Implementasi nilai dalam pembelajaran.

4)      Implementasi belajar aktif dalam pembelajaran.

5)      Ketercapaian Rencana Aksi Sekolah berkaitan dengan penerapan nilai-nilai pendidikan budaya dan karakter bangsa.

6)      Penilaian penerapan nilai pendidikan karakter dan budaya bangsa pada pendidik, tenaga kependidikan, dan peserta didik (sebagai kondisi akhir).

7)      Membandingkan kondisi awal dengan kondisi akhir dan merancang program lanjutan.

Adapun misal hasil penilaian pengembangan pendidikan karakter adalah sebagai berikut:

1)      Konteks (kebijakan, daya dukung/ suporting, Manajemen berbasis Madrasah)

a)      Pihak madrasah menetapkan nilai-nilai karakter yang diprioritaskan dikembangkan pada tahun 2012, yaitu: religius, jujur, disiplin, peduli lingkungan dan sopan santun. Hal ini tercantum dalam RKS yang disusun hingga Desember 2012,

b)      Kepala sekolah menanamkan sifat keterbukaan dalam pelayanan Madarasah.

2)      Kepala Sekolah, Pendidik dan Tenaga Kependidikan,  RKS, dan KTSP

a)      Tenaga pendidik dan kependidikan sudah mendapatkan sosialisasi tentang pendidikan karakter dari pihak kepala sekolah.

b)      Kepala sekolah dan guru secara bergantian menyambut kedatangan peserta didik di sekolah pada pagi hari dan membiasakan bersalaman dengan peserta didik serta diiringi alunan suara musik dan nyanyian Islami.

c)      Sekolah telah memiliki RKS yang memuat sejumlah kegiatan yang terkait dengan integrasi nilai-nilai pendidikan karakter yang diprioritaskan pihak sekolah.

d)     Sudah tersusun kurikulum dokumen 1 yang mengintegrasikan nilai-nilai karakter pada visi, misi, tujuan sekolah, muatan lokal dan pengembangan diri. Sudah tersusun silabus untuk sebagian SK/ KD. Nilai-nilai karakter sudah terintegrasi.

3)      Peserta Didik.

a)      Peserta didik dibiasakan datang tepat waktu sesuai peraturan madarasah.

b)      Membiasakan bersalaman dengan guru dan tamu.

c)      Menjaga  kebersihan toilet.

d)     mencuci tangan sebelum makan  dan membuang sampah pada tempatnya.

e)      Jika menemukan barang yang bukan miliknya (barang hilang) diletakkan pada tempat penemuan barang hilang yang sudah disediakan.

f)       Anak yang menemukan barang hilang namanya dicantumkan dan diumumkan.

g)      Ada lomba memungut daun di pagi hari dan bagi siswa yang paling banyak mengumpulan daun dari halaman sekolah mendapat penghargaan.

h)      Peserta didik membersihkan kelas masing-masing secara bergiliran (piket) dan peserta didik melakukan shalat zuhur di mushalla dengan berjama’ah.

4)      Sarana

a)      Dalam rangka menerapkan pendidikan karakter pihak sekolah telah menambah tempat sampah dan memisahkan sampah basah dan kering dengan warna yang berbeda.

b)      Disediakan kotak tempat temuan barang hilang, buku kejujuran, kotak pengaduan, papan prestasi, penambahan kran tempat wudhu yang dananya diambil dari amalan Jumat dan dana Bos, dan dalam pembangunannya bekerjasama dengan komite sekolah.

5)      Proses

a)      Melalui mata pelajaran: Penerapan nilai melalui mata pelajaran mulai tampak pada sebagian guru yang diobservasi. Nilai-nilai karakter sudah diintegrasikan ke dalam silabus dan RPP.

b)      Melalui muatan lokal: dilakukan melalui Pendidikan Al Quran dan Budaya Alam  Minangkabau (BAM).

c)      Melalui pengembangan diri: Penerapan nilai karakter melalui pengembangan diri ada peningkatan. Indikator hal ini antara lain dapat dilihat dari penegakan shalat berjamah oleh komunitas sekolah, WC siswa sudah bersih dan tidak bau, siswa sudah semakin banyak yang membuang sampah pada tempatnya, guru menyambut dan menyalami anak di gerbang sekolah, pada dinding prestasi terdapat setrip yang dipasang pin bagi yang mendapat nilai 10.

  1. h.      Mengembangkan Kembali KTSP Berbasis Pendidikan Karakter

Setelah suatu komunitas pendidikan memperoleh hasil penilaian terhadap pendidikan karakter, maka langkah selanjutnya adalah membandingkan kondisi awal dengan kondisi akhir dan merancang program lanjutan dan melakukan penyusunan kurikulum tingkat satuan pendidikan yang memuat pengembangan nilai-nilai pendidikan karakter dan budaya bangsa. Adapun sistematika tahapan kegiatan ini adalahsebagai berikut:

  1. Mendata  kondisi dokumen awal (mengidentifikasi nilai-nilai pendidikan budaya dan karakter bangsa dalam dokumen I).
  2. Merumuskan nilai-nilai pendidikan karakter dan  budaya bangsa di dalam latar belakang pengembangan KTSP, Visi, Misi, Tujuan Sekolah, Struktur dan Muatan Kurikulum, Kalender Pendidikan, dan program Pengembangan Diri.
  3. Mengitengrasikan nilai-nilai pendidikan karakter dan budaya bangsa dalam dokumen II (silabus dan RPP).
  4. G.      Metode Penelitian
    1. 1.    Jenis dan Pendekatan Penelitian

Ditinjau dari tempat atau lokasi penelitiannya, penelitian ini termasuk dalam jenis penelitian lapangan (Field Research), yaitu penelitian yang dilaksanakan secara intensif, terperinci dan mendalam terhadap objek tertentu yang membutuhkan suatu analisis komprehensif dan menyeluruh.[37] Dalam hal ini penelitian ini difokuskan pada strategi pengembangan kurikulum berbasis pendidikan karakter di MIN 1 Model Padangsidimpuan.

Adapun jenis penelitian ini adalah termasuk jenis penelitian kualitatif naturalistik dengan menggunakan pendekatan fenomenologi yaitu dengan meperhatikan, mengamati fakta, gejala-gejala, peristiwa-peristiwa serta keadaan yang terjadi yang kemudian dituangkan dalam bentuk tulisan.

  1. 2.    Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian adalah tempat dimana penelitian berlangsung. Adapun lokasi penelitian yang digunakan peneliti untuk menguji media yang dikembangkan adalah MIN 1 Padangsidimpuan, yang beralamat di jalan Tengku Rijal Nurdin Km. 3 Kelurahan Pijorkoling. Kota Padangsidimpuan. Provinsi Sumatera Utara.

  1. 3.    Jenis Data

Data kualitatif yaitu data yang tidak bisa diukur secara langsung atau data yang tidak berbentuk angka.[38] Adapun data penelitian ini adalah berbentuk data kualitatif, yaitu data yang diperoleh dari hasil wawancara dengan kepala sekolah, Wakil kepala sekolah dan guru-guru MIN 1 Model Padangsidimpuan dan hasil observasi di lokasi penelitian.

  1. 4.    Sumber Data

Yang dimaksud sumber data dalam penelitian ini adalah keseluruhan objek penelitian yang dijadikan sasaran penelitian. Adapun sumber data dalam penelitian ini adalah terdiri dari sumber data primer dan sumber data sekunder.

  1. Data primer

Yang dimaksud sumber data primer dalam penelitian ini yaitu data-data  yang diperoleh dari hasil wawancara dan hasil jawaban angket dari kepala sekolah, wakil kepala sekolah dan guru-guru sebagai informan penelitian. Kemudian hal-hal yang terkait dengan teknik penerapan pendidikan karakter di MIN 1 Model Padangsidimpuan akan dikumpulkan penelitia melalui observasi pada tempat penelitian.

  1. Data sekunder

Sedangkan yang dimaksud sumber data sekunder yaitu data-data yang melengkapi data-data primer. Sumber data sekunder ini meliputi sumber kepustakaan meliputi buku-buku, media cetak/koran, majalah, dokumen serta catatan-catatan tentang apa saja yang berhubungan dengan profil MIN 1 Model Padangsidimpuan.

  1. 5.    Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data adalah suatu cara atau metode untuk mendapatkan data yang diinginkan oleh peneliti dengan menggunakan berbagai mcam cara.[39] Adapun teknik pengumpulan data yang peneliti gunakan dalam penelitian ini sebagai berikut:

  1. Observasi

Metode observasi ini merupakan suatu penyelidikan yang dijalankan secara sistematik dan sengaja digunakan untuk menggunakan alat indra terhadap kejadian-kejadian yang langsung ditangkap pada suatu suatu kejadian itu terjadi.[40] Dalam penelitian ini, peneliti terlibat langsung dalam kegiatan proses belar mengajar sambil melakukan pengamatan, yang demikian itu disebut dengan observasi berperan serta.[41] Hal itu dilakukan untuk mendapatkan data yang valid tentang pelaksanaan pendidikan karakter di MIN1 Model Padanagsidimpuan.

Selain itu, dalam observasi ini penulis melihat obyek penelitian secara langsung dengan mengamati kegiatan proses belajar mengajar, menggambarkan dan memberikan catatan terhadap objek penelitian.

  1. Interview (wawancara)

Metode wawancara (Interview) adalah teknik pengumpulan data yang digunakan peneliti untuk mendapatkan keterangan- keterangan lisan melalui bercakap-cakap dan berhadapan muka dengan orang yang dapat memberikan keterangan pada si peneliti.

Wawancara ini dapat dipakai untuk melengkapi data yang diperoleh melalui observasi. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan wawancara terstruktur dengan mempersiapkan instrument wawancara terkait dengan strategi pengembangan kurikulum berbasis pendidikan karakter dan teknik penerapan pendidikan karakter di MIN 1 Model Padangsidimpuan.

  1. Dokumentasi

Metode ini merupakan metode yang pelaksanaannya dengan jalan mengumpulkan data yang diambil dari catata-catatan yang erat hubungannya dengan obyek yang diteliti. Menurut Suharsimi Arikunto, metode dokumentasi adalah mencari data mengenai hal-hal verbal yang berupa catatan transkrip, buku, surat kabar, majalah, dan prasasti, notulen rapat, lengger, agenda, dan lain-lain.[42] Metode ini digunakan untuk memperoleh data-data yang tidak bisa diungkap oleh metode yang lainnya. Dalam pelaksanaannya penulis melihat arsip-arsip dan catatan-catatan yang diperlukan, diantaranya tentang: sejarah singkat berdirinya sekolah, inventaris sekolah, struktur organisasi, daftar nama guru, serta jumlah siswa MIN 1 Model Padangsidimpuan.

5. Teknik Analisis Data

Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif, maka data yang digali dan dihimpun dari lapangan adalah data yang disajikan dalam bentuk kata, bukan bentuk angka. Dengan demikian analisis data yang digunakan oleh peneliti mengacu pada tiga langkah, sebagaimana diketengahkan model penyajian dan analisis data dari Miles dan Huberman yaitu:[43]

  1. Reduksi data

Reduksi data yaitu berkenaan dengan proses penyeleksian, pemfokusan, penyederhanaan, abstraksi, dan perubahan data kasar yang terdapat dalam bentuk tulisan hasil dari catatan lapangan. Reduksi data dilakukan ketika awal penelitian, terutama ketika mengadakan dialog dan wawancara dengan Kepala dan wakil kepala Sekolah, serta beberapa orang guru MIN 1 Model Padangsidimpuan.

  1. Display data

Langkah kedua kegiatan analisis data adalah display data. Display data adalah pengumpulan data yang terorganisir dari informasi yang patut ditarik kesimpulan, dan penentuan langkah berikutnya. Pencarian display data membantu kita dalam memahami apa yang terjadi dan untuk mengerjakannya serta berikutnya menganalisis. Display data banyak tipenya seperti matrik, grafik, jaringan, peta, semuanya itu dibentuk untuk mengumpulkan dan mengorganisir informasi dengan segera dapat diperoleh, tersusun rapi, sehingga menganalisis dapat melihat apa yang terjadi, lalu menarik kesimpulan.

Display data dalam penelitian ini adalah usaha dalam pengumpulan data yang berupa dokumentasi, silabus, RPP, buku bidang studi keagamaan, leger, dan sebagainya yang diperoleh dari obyek/tempat penelitian. Begitu pula hasil dialog dan wawancara dengan kepala Sekolah dan para guru Pendidikan Agama Islam dihimpun lalu disusun secara sistematika.

  1. Penarikan kesimpulan/verifikasi

Arus ketiga aktivitas analisis data adalah penarikan kesimpulan dan verifikasi (pembuktian data).[44]

Footnote


                [1] Abdul Majid dan Dian Andayani, Pendidikan Karakter Perspektif Islam, (PT. Remaja Rosdakarya, 2011), hlm.  11.

                [2] Hendro Darmawan, dkk., Kamus Ilmiah Populer Lengkap, (Yogyakarta: Bintang Cemerlang, 2010), hlm. 277.

                [3] Dharma Kesuma, dkk., Pendidikan Karakter; Kajian Teori dan Praktik di Sekolah, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2011), hlm. 24.

                [4] Admin, 2012, Kurikulum Pendidikan Karakter, http://www.pendidikankarakter.com, dikutip pada tanggal 9 April 2012.

[5] H.A.R Tilaar, Standarisasi Pendidikan Nasional, Suatu Tinjauan Kritis (Jakarta: Renika Cipta,

2006). 131.

                [6] Wina Sanjaya. Loc. Cit.

[7] Arifin, muzayyin, Filsafat Pendidikan Islam (Jakarta: Bumi Aksara, 2005), 12

[8] Furqon Hidayatullah, Pendidikan Karakter Membangun Peradaban Bangsa (Surakarta: Yuma Pustaka 2010), 12.

[9] Rusyadi, Kamus Indonesia Arab (Jakarta: Rineka Cipta 1995), 391

[10] Ahmad Warson Munawwir, al-Munawwi, Kamus Arab Indonesia (Surabaya: Pustaka Progressif2002),  364 dan 863.

[11] Darma Kesuma dkk, Pendidikan Karakter, Kajian Teori dan Praktik di Sekolah (Bandung: PT Rosdakarya 2011), 11

[12] Ratna Megawati, Character Parenting Space (Bansdung: Read 2007), 9.

[13] Ratna Megawati, Pendidikan Karakter Solusi yang tepat Untuk Membangun Bangsa (Jakarta:

Indonesia Heritage Foundation), 23.

[14] Abū Hamid al-Gazali, Ihya Ulumuddin (Mesir: Daar al-Taqwa jld 2), 94

[15] QS al-Baqōrah, 30.

[16] QS. Adz- Dzaiyat, 56

[17] Aminah ahmad Hasan, nazariyah al-Tarbiyah fi al-Qur’ān wa-Tatbiqātuha fi Ahdi Rasulillah SAW (Qairo: Dār al-Mā ārif, 1985), 32.

[18] Furqon Hidayatullah, Penbdidikan Karakter Membangun Peradaban Bangsa, (Surakarta: Yuma

Pustaka, 2010), 39.

[19] Abuddin Nata, Filsafat Pendidikan Islam (Jakarta: Gaya Media Pratama, 2005), 147.

[20] Muhammad Qtub, Sistem Pendidikan Islam (Bandung: al-Ma’Arif, 1988), 326

[21] Furqon Hidayatullah, Pendidikan Karakter Membangun Peradaban Bangsa, (Surakarta: Yuma

Pustaka 2010), 40

[22] QS al-Mumtahanah, 60:6

[23] QS al-Ahzab, 33:21

[24] Furqon Hidayatullah, Pendidikan Karakter Membangun Peradaban Bangsa (Surakarta: Yuma

Pustaka 2010), 45

[25] Satria Hadi Lubis, Saatnya Memperbaiki Diri (Jakarta: Misykat 2004), 62

[26] Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta: Kalam Mulia 2002), 172.

[27] Furqon Hidayatullah, Pendidikan Karakter Membangun Peradaban Bangsa (Surakarta: Yuma

Pustaka, 2010), 53.

[28] Ratna Megawangi, yang terbaik untuk buah hatiku, (Bandung: Khansa’, 2005), hlm. 4

[29] Abudin Nata, Akhlak Tasawuf (Jakarta: Raja Grafindo 1996),166.

[30] Zakiah Daratjat, Ilmu Jiwa Agama, Cet. XIII, (Jakarta: Bulan Bintang 1991), 56.

[31] QS. Luqman, 31: 13-14

[32] Ratna Megawangi, pendidikan karakter solusi tepat membangun bangsa………,60

                [33] Kementerian Pendidikan Nasional; Badan Penelitian dan Pengembangan Pusat Kurikulum dan Perbukuan, 2011, Pedoman Pelaksanaan Pendidikan Karakter, (tidak diterbitkan), hlm. 18-25.

[34] Muhaimin, dkk., Pengembangan Model Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), Pada Sekolah dan Madrasah, (Jakarta: Rajawali Pers, 2009), hlm. 189-190.

[35] Kementerian Pendidikan Nasional, Badan Penelitian dan Pengembangan Pusat Kurikulum, Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa; Pedoman Sekolah, (Jakarta, 2010), hlm. 18-19.

                [36] Nurla Isna Aunillah, Panduan Menerapkan Pendidikan Karakter di Sekolah, (Jogjakarta: Laksana, 2011), hlm. 48-55.

[37] Arikunto Suharsimi, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek (Jaakrta: Renika Cipta, 1998), 11.

[38]  Hadi Sutrisno, Statistik II,  (Yogyakarta: YPFP. UGM, 1987), hlm. 132.

[39] Suharsimi, Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek (Jaakrta: Renika Cipta, 2002), 197.

[40] Bimo, Walgito, Bimbingan dan Penyuluhan di Sekolah (Yogyakaarta: Andi Offset, 1983), 83.

[41] Sugiono, Metode Penelitian Pendidikan, Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R & D (Bandung: Alfabeta, 2008), 204.

[42] Ibid., 135.

[43] Moh. Nasir, Metode Penelitian……… 23.

[44] Noeng Muhajir, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Yogyakarta: Reka Sanisin, 1996), 31

DAFTAR RUJUKAN

Al-Gazali, Abū Hamid, Ihya Ulumuddin Mesir: Daar al-Taqwa, t.th.

Arikunto, Suharsimi, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek,Jakarta: Renika Cipta, 1998.

Aunillah, Nurla Isna, Panduan Menerapkan Pendidikan Karakter di Sekolah, Yogyakarta: Laksana, 2011.

Bimo, Walgito, Bimbingan dan Penyuluhan di Sekolah Yogyakaarta: Andi Offset, 1983.

Darmawan, Hendro, dkk., Kamus Ilmiah Populer Lengkap, Yogyakarta: Bintang Cemerlang, 2010.

Hidayatullah, Furqon, Pendidikan Karakter Membangun Peradaban Bangsa Surakarta: Yuma Pustaka 2010.

Kementerian Pendidikan Nasional, Badan Penelitian dan Pengembangan Pusat Kurikulum, 2010, Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa; Pedoman Sekolah, tidak terbit.

___________, 2011, Pedoman Pelaksanaan Pendidikan Karakter, tidak terbit.

Kesuma, Darma, dkk, Pendidikan Karakter, Kajian Teori dan Praktik di Sekolah Bandung: PT Rosdakarya 2011.

Kesuma, Dharma, dkk., Pendidikan Karakter; Kajian Teori dan Praktik di Sekolah, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2011.

Majid, Abdul dan Dian Andayani, Pendidikan Karakter Perspektif Islam, PT. Remaja Rosdakarya, 2011.

Megawati, Ratna, Character Parenting Space, Bandung: Read 2007.

Muhaimin, dkk., Pengembangan Model Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), Pada Sekolah dan Madrasah, Jakarta: Rajawali Pers, 2009.

Muhtadi, Ali, 2011, Implementasi Kurikulum Pendidikan Karakter Dalam Kurikulum Sekolah, tidak terbit.

Munawwir, Ahmad Warson, al-Munawwi, Kamus Arab Indonesia (Surabaya: Pustaka Progressif, 2002.

Rusyadi, Kamus Indonesia Arab Jakarta: Rineka Cipta 1995.

Sugiono, Metode Penelitian Pendidikan, Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R & D Bandung: Alfabeta, 2008.

2 comments on “Proposal Pengembangan Kurikulum Berbasis Pendidikan Karakter di MI (By Hamdan HBA)

  1. trims yah…proposalnya menjadi masukan buat tia nih…secara kebetulan tia lagi nyusun proposal ttg implemenasi ped karktr pd bahan ajar bahasa indonesia kls VII ,bisa bantukah alat ukur yg digunakan ,lembar penilain,itu yang buat aku susah mas

    • Kembali kasih mbak.
      alat penilaiannya dapat mbak kembangkan sendiri dari kisi-kisi/ rancangan pendidikan karakter yang mau mbak diterapkan. lalu buatlah lembar kategorisasi/ bentuk ceklis tentang tingkat keberhasilan penerapan pendidikan karakter tersebut.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s